Penampilan Diri
Penampilan adalah bentuk citra diri
yang terpancar dari diri seseorang, dan juga meupakan sarana komunikasi antara
seorang individu dengan individu lainnya. Tampil menarik dapat menjadi salah
satu kunci sukses dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Orang lain akan merasa
nyaman, betah, dan senang dengan penampilan diri yang enak dipandang mata.
Berpenampilan menarik bukan berati mewah, tetapi tergantung pada diri individu
itu sendiri dalam kaitannya pengembangan diri seutuhnya secara baik.
Penampilan mengandung pengertian,
diantaranya (1) enak dan menarik dipandang mata, (2) kesempurnaan penampilan
dalam warna, (3) proporsi tubuh yang simetris yang menimbulkan kesan menarik.
Dengan kata lain, suatu penampilan akan terlihat menarik manakala penampilan
itu pleasing atau berbentuk sempurna
dalam pengertian proporsi dari setiap bagian terstuktur secara harmonis.
Penampilan
Menarik
Usaha yang dapat dilakukan untuk
dapa berpenampilan menarik meliputi:
a. Sikap
atau pembawaan
Sikap yang baik akan menimbulkan kesan
yang baik pula. Dalam hal ini, penampilan fisik seseorang memegang peranan
penting melalui cara berjalan, cara berbicara, cara makan, cara duduk, cara
berdiri.
b. Ekspresi
wajah dan bahasa tubuh
Hal yang terkait dengan ekspresi wajah
dan bahasa tubuh adalah: (1) cara memandang, yaitu pandangan mata saat melihat
atau berbicara dengan lawan bicara. (2) Sikap tubuh, meliputi sikap kepala
(tegak), sikap wajah (alis mata, bibir).
c. Berbicara
Untuk dapat berbicara dengan baik
dituntut bahasa tubuh yang sesuai dengan pembicaraan yang dilakukan. Suara juga
harus disesuaikan dengan kondisi waktu, tempat, maupun inti pembicaraan. Misal:
jika pembicaraan mengandung makna kemarahan maka ekspresi wajah, intonasi suara
juga menyelaraskan dalam keadaan gusar.
d. Kesehatan
Kesehatan merupakan hal penting yang
harus diperhatikan dan diusahakan agar memberikan penampilan segar dan prima.
Kesehatan harus dijaga dengan cara: makan dan tidur dengan teratur, jangan
terlalu tegang dan lelah, olahraga yang teratur disesuaikan dengan kondisi
tubuh, pandangan hidup yang optimis.
e. Kebersihan
dan kerapian
Bau Badan (BB) dan Bau Mulut (BM)
merupakan hal penting yang diperhatikan dan dihindarkan karena akan mengganggu
penampilan secara keseluruhan.
Cara-cara yang dapat dilakukan
untuk menghindari bau badan adalah: menghindari makanan yang berbau tajam dan
merangsang, makan teratur dengan memperbanyak sayuran dan buah-buahan, secara
teratur minum jamu.
Adapun hal yang harus
dilakukan dalam menghindari bau mulut adalah: menjaga kebersihan gigi, menghindari
penyakit lambung, menjauhi makanan yang berbau merangsang seperti petai,
bawang, durian dan sebagainya.
Disamping Bau Badan dan
Bau Mulut, maka kuku juga merupakan satu hal penting harus dijaga kebersihan
dan kerapiannya. Suatu hal yang sia-sia apabila seseorang telah berdandan
serapi dan secantik mungkin, namun kuku-kukunya kotor dan terkesan tidak
terawat. Untuk itu kebersihan kuku baik tangan maupun kaki harus senantiasa
diperhatikan. Usahakan agar panjang kuku sama dan ujungnya tidak kuning.
Kerapian pada sepatu
dan pakaian juga merupakan faktor penunjang
penampilan seseorang. Pakailah sepatu yang sesuai dengan ukuran kaki,
sesuaikan pula model dan warna dengan pertemuan yang akan dihadiri. Perhatikan
agar sepatu selalu dalam keadaan bersih dan terawat.
f.
Tata rambut dan tata
rias
Untuk tata rambut, sesuaikan penataan
rambut dengan bentuk muka, bentuk tubuh, profesi, waktu, faktor kepribadian
(tidak memaksakan suatu mode tertentu), usia.
Untuk tata rias, haruslah
dibedakan berdasarkan waktu, usia, profesi, sifat pertemuan. Jika tata rias
untuk pagi hari maka gunakanlah warna teduh, pastel yang memberi kesan
sederhana. Jangan memakai pemerah pipi dan warna lipstick yang terlalu menyolok. Daris mata jangan terlalu tajam,
dan gunakan mascara dengan ringan pada bulu mata. Adapun tata rias pada malam
hari, dapatlah digunakan warna-warna yang menolok, berkilap, dan terkesan tajam
dan berat.
g. Tata
busana
Busana tidak saja berfungsi sebagai
pelindung tubuh dan penutup bagian tertentu pada tubuh, akan tetapi busana
mempunyai fungsi lain yaitu memperindah diri. Kemampuan seseorang untuk dapat
berbusana dengan tepat dan baik akan menampilkan kesan positif yang berkaitan
erat dengan gairah hidup, sehingga menambah percaya hidup. Berbusana dengan
baik akan menampilkan pribadi yang menarik pula.
Teknik Mendengar
Seringkali dalam kehidupan
sehari-hari, didengar instruksi untuk mendengar, seperti: “Tolong simak penjelasan ibu!”, atau “Tolong dengar ibu”. Apa perbedaan diantara
kedua kata tersebut: simak dan dengar. Simak atau dalam bahasa inggris ‘listen’ adalah proses psikologis yang
aktif memerlukan konsentrasi dan kesungguhan. Jika ada orang berbicara, maka
lawan bicara akan mendengar dengan penuh konsentrasi, memilah-milah informasi
apa yang perlu diperhatikan dan mana yang dapat diabaikan.
Sementara dengar atau dalam bahasa
inggris ‘hearing’ adalah proses
psikologis pasif, yaitu seseorang yang mendengarkan lawan bicara tanpa unsur
penyaringan informasi. Semua informasi dapat diterima secara bulat-bulat atau
sebaliknya, semua informasi dapat berlalu tanpa kesan.
Beberapa hambatan yanf kerap
dijumpai dalam proses mendengar adalah:
a.
Sub Vocal Responding
Yaitu buru-buru memberikan respons,
sebelum orang lain selsesain bicara. Contoh: seseorang berbicara mengenai
renovasi menara mesjid, sebelum orang tersebut selesai berbicara lawan bicara
telah menanggapi bahwa pembicaraan yang berlangsung adalah permohonan bantuan
dana renovasi mesjid.
b.
Self Consciousness
Terlau sadar diri, sehingga tidak mau
mendengarkan pembicaraan orang lain. Contoh: ketika pada seseorang
berpendidikan tinggi disampaikan suatu informasi maka yang bersangkutan
cenderung mengabaikan, karena merasa lebih tahu mengenai hal tersebut.
c.
Other Conciousness
Sangat terkesan pada penampilan dan cara
seseorang berbicara, sehingga tidak memperhatikan isi pembicaraan. Contoh:
banyak pemberitaan koran yang menampilkan korban penipuan dari bank gelap yang
senantiasa lebih menampilkan ‘pesona’ dan mengumbar janji gombal untuk
memberikan bunga lebih besar dari bank resmi pemerintah, daripada menepatinya.
d.
Selective Listening
Terlalu memilih isi pembicaraan (yang
bagus-bagus saja yang didengar, yang tidak enak diacuhkan). Contoh: individu
yang hanya mau mendengar informasi yang disukai dan menyenangkan hati.
Sementara, informasi yang kurang menyenangkan tidak diacuhkan dan cenderung
diabaikan.
e.
Message Predispositions
Pemilahan pesan, dengan mengambil yang
menguntungkan dan mengabaikan yang lain walaupun sesungguhnya pesan merupakan
satu kesatuan. Contoh: sebuah pesan berbunyi “Beli satu dapat dua, untuk setiap
pembelanjaan senilai lima ratus ribu rupiah.”, namun pendengar melakukan
pemilahan pesan sehingga pesan menjadi “Beli satu dapat dua.”, saja.
Agar
pelaku komunikasi dapat melakukan teknik mendengar secara baik, berikut
beberapa saran untuk mendengar:
a. Dengarkan
penuh konsentrasi
Acapkali melelahkan (kalau belum terbiasa),
namun terus usahakan, dengan cara yakinkan diri dulu bahwa pembicaraan yang
dilakukan perlu, dan simaklah segala sesuatu yang dikatakan oleh lawan bicara.
b. Aktif
ikut pembicaraan
Cara yang dapat dilakukan adalah dengan
mengatakan “oh ya?” atau “ah, masa sih?” atau “jadi ........... maksudnya itu
harus demikian?” dan lain sebagaimana.
c. Bertanyalah
Jika isi pembicaraan tidak dimengerti
ataupun dipahami, hendaknya ajukanlah pertanyaan secara langsung.
d. Discriminating
Dengarkanlah seluruh pembicaraan secara
kritis, jadi bukan memilih-milih informasi yang harus didengar.
e. Affective Listening
Dengarkanlah pembicaraan dengan penuh
perasaan suka. Sukar melaksanakannya? Cobalah terus, pastilah lambat laun akan
terbiasa.
Seni Komunikasi
Komunikasi adalah unsur utama dalam
segala kegiatan manusia. Komunikasi juga merupakan baguan yang sedemikian erat
terkandung dalam setiap aspek kehidupan manusia, tidak ubahnya dengan nafas dan
aliran darah manusia itu sendiri. Sepanjang rentang waktu dalam kehidupan,
manusia tidak akan pernah lepas dari aktivitas komunikasi. Jika dikaitkan
dengan kepribadian, bahwa kepribadian seseorang adalah merupakan apa yang
‘ditangkap’/direspons oleh orang lain atas apa yang di ‘komunikasi’ kan oleh
individu bersangkutan, verbal maupun non-verbal.
Sedemikian pentingnya komunikasi
dalam kehidupannya, membuat manusia disatu sisi berupaya untuk lebih memahami
makna komunikasi khususnya jika ditafsirkan sebagai wujud dari kepribadiannya.
Namun disisi lain, komunikasi itu sendiri kerap dianggap ‘sebelah mata’ oleh
manusia (sebagai pelaku komunikasi).
Komunikasi dan
Komunikasi Efektif
Apakah melakukan komunikasi itu
mudah? Jawabannya akan berkisar pada tiga jawaban, yaitu yang menjawab mudah,
yang menjawab sulit, atau mungkin ada yang menjawab secara diplomatis dengan
menjawab susah-susah gampang tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi.
Kemampuan berkomunikasi seorang
individu tidaklah tumbuh begitu saja, melainkan sebuah proses yang diupayakan.
Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berkomunikasi dan bagaimana
manusia dapat mewujudkan segala potensi yang ada dalam dirinya menjadi kekuatan
yang besar tergantung pada sikap dan kepribadiannya (non-verbal), dan cara
berkomunikasi (verbal). Dengan kata lain, manusia sebagai pelaku komunikasi
harus mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif, bukan dengan proses
kekerasan maupun pemaksaan melainkan karena adanya unsur kesetaraan,
keselarasan, dan pemahaman.
Komunikasi yang sesungguhnya dan
seharusnya dilakukan dalam kehidupan manusia baik sosial maupun bisnis adalah
komunikasi efektif. Apakah komunikasi efektif itu?
Kata komunikasi berasal dari bahasa
latin ‘communis’ yang berarti
‘bersama’. Sedangkan menurut kamus, definisi komunikasi dapat meliputi ungkapan-ungkapan
seperti berbagi informasi atau pengetahuan, memberi gagasan atau bertukar
pikiran, informasi, atau yang sejenisnya dengan tulisan atau ucapan.
Komunikasi merupakan proses
perilaku yang rumit meski untuk pesan yang paling sederhana dan langsung.
Komunikasi m;elibatkan seluruh rasa, pengalaman, emosi dan kecerdasan. Dalam
istilah umum yang sederhana, proses komunikasi berupa arus pesanan melalui
suatu saluran dari sumber pesan atau informasi menuju penerima pesan. Sebelum
pesan dikirim, pesan harus diwujudkan dalam bentuk penggalan-penggalan
unformasi yang dapat dikirimkan dengan menggunakan sarana komunikasi. Ketika
pesan yang dikirim sampai kepada penerima, pesan tersebut harus dapat
ditafsirkan. Pesan yang sampai kepada pihak penerima tidak selalu tepat
sebagaimana yang dimaksudkan oleh pihak pengirim pesan. Hal ini disebabkan
terjadinya faktor-faktor gangguan yang terjadi pada penyusunan penggalan
informasi di pihak pengirim pesan, gangguan pada saluran informasi, atau pada
penafsiran pesan di pihak penerima.
Etika
Berkomunikasi
Untuk senantiasa berkomunikasi
efektif dalam kehidupan sehari-hari, individu juga harus memahami tata cara berbicara yang baik untuk
lebih memperkaya wawasan dalam melakukan komunikasi efektif, yaitu:
a.
Lihatlah
lawan bicara
Saat seseorang
melakukan komunikasi, tataplah dan lihatlah lawan bicara dengan pandangan
bersahabat. Janganlah menoleh kekiri atau kekanan selama pembicaraan
berlangsung yang mengesankan kejenuhan ataupun kegelisahan terhadap lawan
bicara, karena hal ini akan menimbulkan ketersinggungan. Pandangan ditujukan
pada arah kening atau diantara kedua mata lawan bicara dengan tatapan mata yang
teduh, dan bukan dengan amarah ataupun pandangan yang sinis.
b. Suara harus terdengar
jelas
Jika
berkomuniaksi dengan orang lain, suara yang dikeluarkan harus jelas terdengar.
Jangan bergumun (seperti orang yang sedang menguyah makanan di mulut) ataupun
terlalu keras/berteriak (seakan dalam keadaan marah).
c. Ekspresi wajah yang
menyenangkan
Wajah adalah
cerminan hati. Jika Anda selama berkomunikasi menampakkan wajah cemberut, maka
hal ini menggambarkan sikap Anda yang tidak bersahabat dengan lawan bicara.
Untuk itu tampilkanlah ekspresi wajah yang bersahabat selama komunikasi
berlangsung, dan jangan menampilkan wajah mesum dan genit – jika Anda ingin
mendapatkan citra diri yang positif dari lawan bicara Anda.
d. Tata bahasa yang baik
Gunakanlah
bahasa yang sesuai dengan kondisi dan situasi selama komunikasi berlangsung.
Misal: jika Anda berbicara dengan preman, gunakanlah bahasa preman. Dan, jika
Anda berbicara dengan anak balita, gunakanlah bahasa anak-anak yang penuh
dengan kemanjaan dan keceriaaan.
e. Pembicaraan mudah
dimengerti, singkat dan jelas
Selama berkomunikasi
berlangsung, selain tata bahasa yang baik, perhatikan pula susunan kata-kata
yang diucapkan. Jangan terlalu panjang, berbelit-belit, susah untuk dipahami.
Misal: seseorang bertanya tentang ruangan administrasi, maka Anda menjawab:
“ibu, jalan terus nanti ketemu tiang biru belok ke kanan, jalan terus, ketemu
tong sampah merah jalan tiga langkah terus kekanan, ke kiri, terus, belok ke
kanan, ke kiri lagi, nah ... di sana ibu tanya dengan satpam”. Bayangkan betapa
bingungnya ibu yang bertanya mendengarkan jawaban Anda!
Disamping tata cara berbicara yang
baik, maka perlu pula dipahami akan magic
words (kata-kata ajaib) dan killer
words (kata-kata yang membunuh) sebagai berikut:
MAGIC WORDS
· Akan saya coba ...
· Saya akan tanya ke bagian yang bersangkutan
· Akan memakan waktu, akan saya coba ...
· Maksud saya ...
· Maaf, boleh pindah ke sini
· Terima kasih ...
· Silahkan ...
· Tentu ...
· Mari saya bantu ...
· Tolong ...
|
KILLER WORDS
· Tidak bisa ...
· Tidak tahu ...
· Tidak mungkin ...
· Wah susah ...
· Bukan saya ...
· Jangan ...
· Terserah ...
· Salah sendiri ...
· Kan saya sudah bilang ...
· Cepetan dong ...
|
Disadari atau tidak, saat individu menyebut ‘kata-kata ajaib’ maka ekspresi wajah, suara dan tatapan mata pun akan menyelaras dengan kata-kata tersebut dan membentuk sikap diri yang bersahabat, dan sebaliknya ‘kata-kata yang membunuh’ akan menghasilkan sikap yang bermusuhan. Jika magic dan killer words mewakili komunikasi verbal, maka magic dan killer gestures mewakili komunikasi non verbal dengan uraian sebagai berikut:
MAGIC
GESTURES KILLER GESTURES
· Berdiri
tegak · Bersidekap
· Duduk
dengan tangan terbuka · Duduk bermalasan
· Senyum
dan antusias · Raut muka sombong
· Menunjuk
dengan seluruh jari · Menunjuk menggunakan satu jari
· Eye
contact · Berbicara sambil makan
· Berkacak pinggang
Apa sih Sikap
itu?
Gabungan karakteristik fisik
seseorang (seperti mata, sosok tbuh, hidung) serta karakteristik mental
(seperti ketekunan, toleransi, kebijaksanaan) merupakan kombinasi yang
memunculkan kepribadian dari diri seseorang. Kepribadian seseorang ada dalam
benak orang lain. Bagaimana orang menafsirkan kepribadian seseorang merupakan
kunci untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kepribadian diri sendiri.
Kepribadian terletak pada apa yang tampak pada penampilan seseorang, dan bukan
pada bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.
Yang dimaksud dengan penampilan
bukan hanya meliputi model baju, warna baju, gaya rambut, polesan make up, warna dan model sepatu, tas
yang digunakan, tetapi juga meliputi gerakan tubuh, intonasi suara, ekspresi wajah,
senyum, dan lainnya. Dengan kata lain meliputi sikap dan perilaku individu
dalam kehidupan sosialnya. Apakah sikap itu? Apa yang membedakan sikap dengan
perilaku? Adakah kolerasi diantara keduanya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan
ini, berikut penjelsannya.
Apakah Sikap
itu?
Secara sederhana daptlah diuraikan
bahwa sikap adalah cara seseorang melihat ‘sesuatu’ secara mental (dari dalam
diri) yang mengarah pada perilaku yang ditujukan pada orang lain, ide, objek
maupun kelompok tertentu. Sikap juga merupakan cerminan jiwa seseorang. Sikap
adalah cara seseorang mengkomunikasikan perasaanya kepada orang lain (melalui
perilaku).
Jika perasaan seseorang terhadap
‘sesuatu’ adalah positif maka akan terpancar pula perilaku positif dari
individu bersangkutan menyikapi ‘sesuatu’ yang dihadapinya itu, dan sebaliknya.
Begitu menyedihkan, jika perasaan sedang tidak nyaman (negatif) maka yang
tercermin adalah wajah yang keruh, semangat kerja menurun, hari yang indah
berubah menjadi hari yang membosankan. Jika ‘sesuatu’ berjalan secara mulus,
wajah tanpa disadari akan berseri-seri, dunia menjadi serasa indah, semangatpun
akan menggebu-gebu.
Perbedaan terletak pada proses
terjadinya dan penerapan dari konsep tentang sikap itu sendiri. Mengenai proses
terjadinya, sikap adalah sesuatu yang dipelajari (bukan bawaan). Oleh
karenanya, sikap lebih dapat dibentuk, dikembangkan, dipengaruhi, dan diubah.
Ada sebgian yang mengatakan bahwa sikap adalah bawaan, terbukti dari
kenyataannya bahwa sikap dapat timbul dapat adanya pengalaman sebelumnya,
misalnya orang yang sejak bayi tidak suka makan sayur.
Sikap Positif
dan Sikap Negatif
Sikap dapat dibedakan atas
bentuknya dalam sikap positif dan negatif, yaitu:
a. Sikap
positif
Merupakan perwujudan
nyata dari intensitas perasaaan yang memerhatikan hal-hal yang positif. Suasana
jiwa yang lebih mengutamakan kegiatan kreatif daripada kegiatan yang
menjemukan, kegembiraan daripada kesedihan, harapan daripada keputusan. Sesuatu
yang indah dan membawa seseorang untuk selalu dikenang, dihargai, dihormati
oleh orang lain. Untuk menyatakan sikap yang positif, seseorang tidak hanya
mengeksperikannya hanya melalui wajah, tetapi juga dapat melalui bagaimana cara
ia berbicara, berjumpa dengan orang lain, dan cara menghadapi masalah.
Sikap positif juga mencerminkan
seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang baik, dan karenanya ia patut
dikenal dan diketahui. Bila sesuatu terjadi sehingga membelokkan fokus mental
seseorang ke arah yang negatif, mereka yang positif mengetahui bahwa guna
memulihkan dirinya, penyesuaian harus dilakukan, karena sikap positif hanya
dapat dipertahankan dengan kesadaran.
Usaha yang dapat
dilakukan untuk menuju sikap postif adalah (1) tumbuhkan pada diri sendiri
suatu motif yang kuat. Selalu mengingatkan diri bahwa ssesuatu yang positif
akan diperoleh dari kebiasaan baru, (2) Jangan biarkan perkecualian sebelum
kebiasaan baru mengakar di kehidupan pribadi, (3) berlatih dan berlatih terus
dalam setiap kesempatan, tanpa rasa jenuh dan bosan.
b. Sikap
negatif
Sikap negatif harus dihindari,
karena hal ini mengarahkan seseorang pada kesulitan diri dan kegagalan. Sikap
ini tercermin pada muka yang muram, sedih suara parau, penampilan diri yang
tidak bersahabat. Sesuatu yang menunjukan ketidakramahan, ketidak menyenangkan,
dan tidak memiliki keprcayaan diri.
Untuk menghilangkan
sikap negatif adalah (1) belajar mengenali sifat negatif diri, bersikap jujur
terhadap diri atau tanyalah pada seseorang yang dipercaya dan dihormati
mengenai sifat negatif diri, (2) akui bahwa sikap negatif itu memang dilakukan.
Sikap terbentuk malalui
proses pembiasaan. Lebih sering kebiasaan dilakukan, semakin melekat dan
bertambah sulit untuk dihilangkan. Untuk itu latihan untuk menghilangkan
kebiasaan buruk pada diri harus dilakukan secara berkesinambungan, dilandasi
kesadaran penuh untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Meskipun
seseorang tidak dapat lagi mengubah apa yang telah terjadi pada masa lalunya,
tetapi ia dapat memberikan sumbangan positif bagi perkembangan dan pertumbuhan
dirinya sendiri pada masa yang akan datang dengan meminimalkan ‘kebiasaan
buruk’ dan memaksimalkan ‘pendekatan belajar’. Seperti kata-kata hikmat berikut
ini:”Belajar dari kesalahan sendiri, dan
bertumbuh dari keberhasilan-kebiasaan sendiri”.
Usaha
untuk mengembangkan baru dapat dilakukan dengan:
(1) Tumbuhkan
pada diri sendiri suatu motif yang kuat untuk merubah kebiasaan yang buruk.
(2) Setiap
kali akan bertindak, pikirkan untung-ruginya.
(3) Antusias
– positive thinking.
(4) Belajar
meyakini diri sendiri.
(5) Kurangi
rasa khawatir diri, meragukan diri, iri hati, tidak bisa membuat diri senang
dalam situasi dan kondisi yang dihadapi.
(6) Tingkatkan
kemampuan untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan diri, dan
(7) Berlatih,
berlatih dan berlatih pada setiap kesempatan.
Masa lampau telah membayar harganya sendiri, yaitu masa
lampaun memberikan bimbingan untuk masa sekarang dan yang akan datang. Bila hal
ini terjadi, individu akan mendapatkan ‘pembelajaran’ berharga untuk
meningkatkan keyakinan diri, harga diri dan sikap membangun terhadap dirinya
sendiri.
Kepribadian
Sesuai janji, saya akan memposting tentang
kepribadianJ semoga bermanfaat;)
Dalam kehidupan sehari-hari,
seirngkali terdengar atau mungkin dijumpai seseorang yang dinyatakan memiliki
kepribadian yang baik atau sebaliknya, seperti mislanya: wajah Mira tidak
cantik, tetapi saya menyukai kepribadiannya. Atau, Rudy itu orangnya ‘enak’, ia
mempunyai kepribadian yang menyenangkan. Pertanyaan yang mengikuti pertanyaan
seperti diatas adalah kriteria apa sajakah yang menentukan seseorang dikatakan memiliki
kepribadian baik atau buruk? Apakah seorang yang senantiasa membantu orang lain
dapat dikatakan kepribadian baik, padahal yang bersangkutan disisi lain adalah
cara seseorang berhias diri, ataukah cara seseorang tersenyum kepada orang
lain? Apakah kepribadian itu adalah tentang cara seseorang bertindak untuk
memberi kesan yang baik terhadap orang lain? Ataukah kepribadian itu merupakan
sesuatu yang lebih mendalam lagi?
1.
Apakah
Kepribadian itu?
Kepribadian
bukanlah sesuatu yang dapat dikenakan ataupun ditanggalkan sebagaimana orang
mengenakan pakaian ataupun mengikuti gaya mode tertentu. Kepribadian
adalah sesuatu yang unik pada diri masing-masing individu.
Menurut
saya, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem
psikofisik yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungan.
Definisi
kepribadian mengandung beberapa postulat, sebagai berikut:
1.
Kepribadian adalah
organisasi keseluruhan atau Gestalt. Karenanya individu mempunyai intergritas,
arti ataupun kontinuitas.
2.
Kepribadian tampak
dalam pola-pola yang terorganisasi yang dikenal dengan istilah: sifat. Sifat,
adalah menetap, dapat diamati dan dapat diukur.
3.
Pengembangan
kepribadian merupakan hasil atau produk lingkungan sosial-budaya (peran orang
tua, anggota keluarga, dan lainnya), disamping pengaruh dasar-dasar biologis
(kemampuan motorik lainnya).
4.
Kepribadian mengandung
aspek yang superfisial (misal tulisan tangan, sikap terhadap permainan catur),
dan aspek yang inti (sentimen, kecenderungan temperamen).
5.
Kepribadian mempunyai
sifat yang ‘umum dan unik’, yaitu walaupun kepribadian secara individual saling
berbeda, ada kesamaan-kesamaan tertentu yang berlaku umum untuk suatu kelompok
didalam masyarakat, atau untuk seluruh umat manusia.
Konsep
kepribadian yang bersifat menyeluruh ini, tidaklah mudah untuk dipelajari
sehingga cara pendekatan pun menjadi berbeda-beda.
Pendekatan
pada salah satu atau beberapa asperk kepribadian dapat lebih objektif dengan
metode tersebut kemungkinan besar akan kehilangan keunikan dan sifat menyeluruh
kepribadian. Di pihak lain, pendekatan yang bersifat menyeluruh akan bersifat
menyeluruh akan bersifat subyektif karena akan banyak mengandalkan intuisi
peneliti, sehingga seringkali terlalu spekulatif dan tidak ilmiah.
2.
Temperamen
dan Watak
Pengertian
temperamen dam kepribadian sering dikacaukan. Temperamen adalah disposisi yang
sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor biologis atau fisiologis, dan
karenanya sedikit sekali mengalami perubahan di dalam perkembangan. Peranan
keturunan mamainkan peranan penting. Temperamen adalah bagian khusus dari
kepribadian.
Watak,
istilah kepribadian dan watak sering dipergunakan secara bertukar-tukar. Watak
berarti normatif, yaitu kata watak mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu
menjadi dasar individu atau perbuatannya dinilai oleh orang lain. Jadi, dalam
menggambarkan watak individu, kata ‘baik’ atau ‘buruk’ seringkali dipakai.
Watak adalah suatu konsep etis. Definisi watak adalah kepribadian yang
dievaluasi, sedangkan kepribadian adalah watak yang didevaluasi.
Watak
dapat pula dikatakan sebagai temperamen yang dimodifikasi oleh pendidikan,
pengalaman, kepercayaan, kebudayaan, motivasi, dll.
3.
Perkembangan
Kepribadian
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya, kepribadian manusia selalu berkembang dan berubah.
Adapun perkembangan kepribadian itu dapat dikategorikan pada tiga fase
perkembangan sebagai berikut:
(a) Masa
bayi
Pada waktu lahir, anak
telah mempunyai potensi baik fisik maupun temperamen, yang aktualisasinya
tergantung kepada perkembangan dan kematangan jiwanya. Bayi adalah makhluk yang
eksistensinya nyaris semata-mata berupa dorongan primitif dan refleks. Masa
bayi masih belum memiliki kepribadian.
Pada waktu lahir
seorang bayi telah dibekali dengan potensi-potensi fisik dan temperamen
tertentu, namun pemenuhannya masih menunggu proses pertumbuhan dan pematangan.
Bayi mampu memberikan respons dengan beberapa refleks yang sangat spesifik,
mengisap dan menelan.
Untuk itu dapatlah
dikatakan bahwa sebagian dari tingkah laku bayi dipandang sebagai bentuk awal
pola kepribadian kemudian. Peranan orang tua untuk memperkenalkan nilai dan
norma kehidupan pada bayi adalah sangat berpengaruh bagi perkembangan pola
kepribadian selanjutnya.
(b) Masa
kanak-kanak
Perkembangan dari masa
bayi menuju masa kanak-kanak melewati garis-garis yang berganda. Manusia adalah
organisme yang pada waktu lahir adalah makhluk biologis, akan berubah/
berkembang menjadi individu yang egonya selalu berkembang.
Dalam perkembangan ini,
peranan orang tua dan lingkungan tempat anak tumbuh akan sangat berpengaruh
pada perkembangan kepribadian dimasa mendatang.
Tingkah laku individu
sesudah kelahiran secara berthap menjadi makin kurang memadai sampai dengan
berkembangnya kesadaran tentang ‘diri’.
(c) Masa
dewasa
Dalam diri individu dewasa
ditemukan kepribadian yang tingkah lakunya ditentukan oleh sekumpulan sifat
yang terorganisasi dan harmonis. Individu dewasa mengetahui apa yang
dikerjakannya dan mengapa itu dikerjakannya. Untuk memahami sepenuhnya apa yang
harus dilakukannya, orang dewasa harus mengetahui tujuan dan aspirasinya dengan
jelas. Motif yang terpenting bukan lagi berupa ‘gema’ masa lampau, melainkan
lambaian ‘ajakan’ masa depan.
Pada masa dewasa faktor
yang memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang adalah kesadarannya akan
tujuan dan makna akan kehidupan selanjutnya. Pada masa ini, pribadi dewasa
tidak lagi terlalu terkait dengan perngaruh dari orang tua maupun
lingkungannya. Pribadi dewasa akan berpikir secara individualistis tentang hal
yang baik dan tidak baik dilakukan bagi kehidupannya.
Berbeda dengan dua masa
sebelumnya, individu menjadi aktif pada masa dewasa, dan melakukan perubahan
untuk pengembangan pribadinya yang didasari pada (1) Kesadaran, bahwa perubahan
itu penting, (2) Kemauan/niat/motivasi, bahwa kepribadian seseorang/individu
akan berkembang bukan hanya dilandasi hanya dengan kesadaran untuk perubahan
semata tetapi harus diiringi dorongsn tindakan, (3) Pengetahuan, bahwa
perubahan yang telah disadari, diniatkan untuk dilakukan harus pula dibekali dengan
pengetahuan yang benar untuk berubah. Adapun pengetahuan dapat diperoleh
melalui pendidikan formal, informal maupun pengalaman selama dalam perjalanan
hidup.
Tidak semua orang
dewasa mencapai kematangan penuh. Ada individu yang sudah dewasa, namun orang
dewasa bertingkah laku mengikuti prinsip yang jelas dan rasioal.
.jpg)
.jpg)


.jpg)
